AKSESIBILITAS KOTA RANGKASBITUNG SEBAGAI IBUKOTA KABUPATEN LEBAK DITINJAU DARI SUDUT PANDANG SOSIAL BUDAYA

  • Usmaedi Usmaedi STKIP Setia Budhi Rangkasbitung
  • Ade Eka Anggraini STKIP Setia Budhi Rangkasbitung
Keywords: Accessibility, Rangkasbitung City, Socio-Culture

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Aksesbibilitas Kota Rangkasbitung sebagai Ibukota Kabupaten Lebak – Banten ditinjau dari sudut pandang sosial budaya. Dimana Kota Rangkasbitung sebagai sebuah ibukota Kabupaten Lebak yang akses dengan ibukota Indonesia di Jakarta dan ibukota Provinsi Banten di Serang sangat dekat tetapi masalah sosial dan budaya sangat terlihat jelas dimana Kabupaten Lebak bergelar sebagai Kabupaten tertinggal. 

Metode penelitian yang digunakan adalah Metode penelitian sejarah terdiri dari empat tahapan pokok yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun kota merupakan gambaran dari heterogenitas, namun heterogenitas semu. Secara umum dalam keseharian penduduk kota tetap berkotak-kotak dalam berbasis sosial ekonomi mereka, yang tercermin dalam pembagian ruang-rang kota. Mereka hidup sendiri-sendiri, tidak saling kenal dan tidak akrab. Hubungan sosial mereka didasarkan atas hubungan kerja yang kaku. Kota adalah tempat yang ramai, tetapi tidak jarang penghuninya dihinggapi rasa kesendirian atau anomie. Anomie adalah disorganisasi nilai-nilai personal dan sosial selama saat-saat penuh ketegangan-ketengan atau tekanan-tekanan katastrofik.

Kata Kunci : Aksesibilitas, Kota Rangkasbitung, Sosial Budaya

 

Abstract

The purpose of this research is to study the accessibility of Rangkasbitung City as the Capital of Lebak Regency - Banten from the socio-cultural point of view. Where the City of Rangkasbitung as the capital of the Lebak Regency which is access to the Indonesian capital in Jakarta and the capital of the Banten Province in Serang is very close but the social and cultural problems are very clearly seen where the Lebak Regency is held as the intended Regency.

The research method used is the historical research method which consists of four main stages namely heuristics, criticism, interpretation and historiography.

The results showed that the City is a picture of heterogeneity, but pseudo heterogeneity. General cities in the daily life of city residents remain compartmentalized in their socio-economy, which is related to the division of urban space. They live alone, do not know each other and are not familiar. Interconnected social relations. The city is a crowded place, but not infrequently the inhabitants are seized with a sense of solitude or anomie. Anomie is the disorganization of personal and social values ​​during periods of catastrophic stress or pressure.

Keywords: Accessibility, Rangkasbitung City, Socio-Culture

Published
2019-10-28